Kamis, 21 April 2011

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao, L) DI DESA JRUEK BAK KREH KECAMATAN INDRAPURII.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kakao (Theobroma,L) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang sesuai dengan perkebunan rakyak, karna tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, sehinga dapat menjadi sumber pendapatan harian bagi petani atau pekebun kakao .Tanaman kakao berasal dari hutan hujan tropis di Amerika Selatan, kakao merupakan tanaman kecil di bagian bawah hutan hujan tropis dan tumbuh terlindung pohon-pohon yang besar. Sebagai daerah tropis Indonesia terletak diantara 6 LU – 11 LS merupakan daerah yang sesuai untuk tanaman kakao. Tanaman kakao (Theobroma, L) merupakan tanaman perkebunan berprospek mejanjikan masa depan kita, dilihat dari banyaknya permintaan bibit kakao yang bermutu oleh petani atau kelompok tani. Oleh karna itu dalam budidaya tanaman kakao memerlukan naungan. Namun setiap jenis tanaman mempunyai kesesuaian lahan dengan kondisi tanah dan iklim tertentu dan tidak semua tempat sesuai dengan tanaman kakao, sebagai tanaman yang memerlukan naungan maka walaupun telah diperoleh lahan yang sesuai sebelum penanaman kakao tetap diperlukan persiapan naungan. Tanpa persiapan naungan yang baik pengembangan tanaman kakao akan sulit diharapkan keberhasilannya, sebaiknya persiapan lahan dan naungan dilakukan satu tahun sebelum tanaman kakao ditanam, seperti yang kita lihat di indrapuri tanaman naungan untuk kakao ditanam tanaman sentang. Didalam usaha tani Kakao membutuhkan teknik budidaya yang baik dan benar agar memperoleh produksi yang optimal, juga memperhatikan kondisi lingkungan dan agroklimat di lokasi pembukaan kebun kakao harus sesuai dengan kebutuhan tanaman kakao. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah. B. Tujuan Studi Lapang Mengetahui cara atau teknik budidaya tanaman perkebunan, tanaman hortikultura, teknik budidaya jamur tiram, dan teknik pembuatan pupuk organik Trichoderma di lapangan, serta pengendalian terhadap tanaman yang terserang hama dan penyakit. Mengamati secara langsung permasalahan yang dihadapi dilapangan serta mencari alternatif pemecahan masalah tersebut. Untuk memperkenalkan kepada mahasiswa tentang objek di dunia nyata pertanian yang terkait dengan Program Studi, sehingga dapat menambah ilmu dan memperluas wawasan dalam ilmu pertanian. II.METODE PELAKSANAAN A. Tempat dan Waktu Praktek Studi Lapang dilaksanakan di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya Gampong Jruek Bak Kreh Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar. Studi Lapang berlangsung pada hari Sabtu, 25 Desember 2010, mulai dari pukul 09.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB. B. Objek/sasaran Pada praktikum Studi Lapang yang di laksanakan di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya Gampong Jruek Bak Kreh Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar, objek yang diamati adalah tanaman hortikultura, budidaya jamur Tiram, kegiatan produksi pupuk organik Trichoderma, teknik pembuatan Mol, dan teknik budidaya tanaman coklat/kakao. C. Metode pelaksaan 1. Mendengarkan pengarahan dari pengurus di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya. 2. Melakukan wawancara langsung dengan pengurus di Pusat Penelitian Pertanian dan Pengembangan Swadaya. 3. Melaksanakan kegiatan pengamatan teknik budidaya pada tanaman kakao, mentimun, tomat, cabai, terong, jamur tiram, serta teknik pembuatan pupuk bokhasi. D. Letak Geografis Kawasan indrapuri 177 Ha dan ketinggiannya 27 m dpl, jarak dari kota Banda Aceh 21 km sedangkan dengan ibu kota Kabupaten Jantho berjarak 36 km, letak Geografis adalah ‘’050, 21- 05024’’LU Dan 95030 “ BT. Batas-batas wilayah Indrapuri adalah: Sebelah utara : Gampong Krueng Aceh. Sebelah Selatan: Gampong Mont Alu. Sebelah Barat : Gampong Jruek Balee. Sebelah Timur : Gampong Ule Ue. Objek Sasaran tanaman: Di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya objek yang diamati diantaranya adalah:  Trichoderma.  Jamur merang dan jamur tiram.  jeruk bali.  Hortikultuar( timun, kacang panjang, terong, tomat ).  Kakao organik dan pohon sentang. III.LAPORAN KUNJUNGAN LAPANGAN A. Tanaman Kakao (Theobroma cacao, L) Tanaman kakao yang di kembangkan pada Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya adalah varietas CFC yang di tanam beserta tanaman sentang sebagai naungan. Jarak tanam sentang dengan sentang 1,80 x 1,80 meter sedangkan 3,6 x3,6 meter. Sentang berfungsi sebagai tanamanpelindung atau naungan terhadap tanaman kakao. Panen tanaman kakao pertama dilakukan pada saat tanaman kakao berumur 3 tahun 8 bulan . Pupuk yang diberikan pada tanaman kakao adalah pupuk Bokasi dalam sekali pemupukan diberikan sebanyak 3,5 kg .Dalam 10 buah kakao bisa menghasilkan 1 kg benih kering kemudian dapat dipasarkan langsung pada agen terdekat. Dalam pemeliharaan kakao dilakukan pemangkasan cabang air, karena Kakao tidak membutuhkan cabang dan daun yang banyak. Pemangkasan berfungsi mengurangi kelembaban , untuk menghindari datangnya penyakit. Penyakit pada kakao yaitu Phitoptora palmifora yang disebabkan oleh faktor tikus, buah kakao yang sudah dimakan tikus akan menimbulkan tumbuhnya jamur, selain tikus hama lainya tupai dan penggerek buah kakao. Bibit kakao di beli dari medan dengan harga Rp 1000 / polybag dengan luas lahan 220 meter. B. Tanaman Hortikultura 1.Tanaman Kacang Panjang(Vigna sinensis) Tanaman kacang panjang yang di kembangkan di lahan ini adalah jenis tanaman kacang panjang duduk, Tanaman kacang panjang ini batangnya tidak tinggi seperti tanaman kacang panjang yang biasa kita lihat. Tinggi tanaman ini kira-kira sekitar 1meter. Caranya tanaman disiram atau digenang, jenis kacang panjang yang tahan terhadap kekeringan adalah kacang tolo dan kacang uci. Kacang panjang dikembangbiakan dengan bijinya. Biji tersebut dapat ditanam langsung di kebun yang telah disiapkan, untuk penanaman seluas 1 ha diperlukan kacang tunggak atau 12 kg biji kacang uci. Sebelum benih ditanam, lahan diolah terlebih dahulu dengan dicangkul dan diratakan, jika tanahnya tandus perlu diberi pupuk kandang atau kompos sebagai pupuk dasar. Setelah tanah diratakan, dibuat bedengan yang lebarnya 140 cm dan lebar selokannya 30 cm, sedangkan panjangnya bebas. Tiap bedengan dibuat lubang tanam searah dengan panjang bedengan dengan tugal. Jarak antarlubang tersebut 30 cm, sedangkan jarak antarbaris 70 cm sehingga tiap bedeangan ada 2 baris tanaman. Setelah itu, tiap lubang ditanami 2 biji kacang panjang lalu ditutup tanah tipis-tipis. Biji-biji dapat tumbuh setelah kurang lebih 5 hari ditanam. Setelah tinggi tanaman mencapai 25 cm, dipasang ajir dari bambu yang tingginya sekitar 2 m. Tanaman kacang panjang tersebut memerlukan ajir tersebut sebagai tempat membelit. Pemasangan lanjaran dilakukan 10 sampai15 hari setelah tanam kacang panjang ditanam, kira-kira tinggi tanaman 15 sampai 25 cm. Pemasangan lanjaran diantara 2 lubang tanam sehingga jarak antar lanjaran 50 cm. Setiap 5 lanjaran perlu ditambah lanjaran/diperkuat, dengan cara dipasang silang. Pemasangan tali dilakukan setelah pemasangan lanjaran selesai. Tali berguna membantu mengarahkan/merambatkan tanaman. Membantu merambatkan bertujuan untuk mengarahkan pertumbuhan tanaman baik pucuk tanamn maupun cabang-cabang tanaman. Diharapkan tanaman merambat pada lanjaran dan tali yang telah dipasang, sehingga buah/polong tidak tergeletak di tanah. PenyianganPenyiangan dilakukan sebelum dilakukan pemupukan atau dilakukan sewaktu-waktu saat gulma sudah mengganggu pertumbuhan tanaman. Pengairan diberikan sesuai kebutuhan, yang terpenting dijaga agar tanaman tidak kelebihan atau kekurangan air. Pengairan sebaiknya dilakukan setelah pemupukan dilakukan. Sedangkan pada musim hujan, pengairan cukup dari air hujan. Ciri-ciri polong siap dipanen adalah ukuran polong telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di dalam polong tidak menonjol. Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman siap panen 3 sampai 4 bulan.Cara panen pada tanaman kacang panjang tipe merambat dengan memotong tangkai buah dengan pisau tajam.Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan di tempat penampungan. Polong biasanya dapat dipungut pertama kali umur 2-2,5 bulan. Pemungutan selanjutnya seminggu sekali dan dapat berlangsung selama 3,5-4 bulan. Keterlambatan dalam panen polong akan menyebabkan buah menjadi berserat dan liat. Jika pemungutan dimaksudkan sebagai benih maka buah yang berserat dan liat tersebut tidak bermasalah. Buah kacang tunggak dan uci dipungut setelah tua (kering) yakni setelah tanaman berumur 3-3,5 bulan karena yang digunakan bijinya. Biji kacang tidak dapat disimpan lama (sekitar 3 bulan di gudang) karena mudah diserang hama penggerek. Produksi kacang lanjaran yang terawatt baik dan sehat dapat menghasilkan 2-2,5 ton polong muda tiap hektar Sementara kacang tunggak dan kacang uci dapat menghasilkan 1-2 ton biji kering/hektar. Produksi kacang panjang dan kacang tolo umumnya hanya untuk konsumsi pasar local/dalam negeri. 2.Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum) Budidaya tomat dapat dilakukan dari ketinggian 0‐1.250 mdpl, dan tumbuh optimal di dataran tinggi > 750 mdpl, sesuai dengan jenis/varietas yang diusahakan dengan suhu siang hari 24°C dan malam hari antara 15°C‐20°C. Pada temperatur tinggi (diatas 32°C) warna buah tomat cenderung kuning, sedangkan pada temperatur yang tidak tetap (tidak stabil) warna buah tidak merata. Temperatur ideal antara 24 °C ‐ 28°C. Curah hujan antara 750‐125 mm/tahun, dengan irigasi yang baik. Kemasaman tanah sekitar 5.5 ‐ 6.5, penyerapan unsur hara terutama fosfat, kalium dan besi oleh tanaman tomat. Di P4S Tomat ditanam untuk mendapatkan tanaman yang tahan dan tanaman yang tidak tahan terhadap penyakit fusarium yaitu dengan menanam tanaman dan memberikan dan memadukan pupuk trichoderma dengan pupuk bokasi, MPK tosca dan kapur. Pada saat tanaman berumur 22 hari selain di berikan pupuk ,tanaman tersebut juga disemprot dengan pupuk cair. Tabel 1. kombinasi pupuk pada tanaman tomat Bedengan Baris Tanaman Kombinasi pupuk/Baris I 1 1-7 NPK Posca 1,5 ons 8-15 NPK Posca 3 ons 2 1-7 NPK+Kapur 5 ons 8-15 NPK+ Kapur 4 ons II 1 1-7 Bokasi + Thricoderma (F2) 5 ons 8-15 Bokasi + Thricoderma (F2) 4 ons 2 1-7 Bokasi 4 ons 8-15 Bokasi 5 ons III 1 1-7 Thricoderma (F1) 2 ons 8-15 Thricoderma (F1) 3 ons 2 1-7 Bokasi+ Thricoderma 4 ons Kapur 1 ons 8-15 Bokasi+ Thricoderma 3 ons Kapur 1 ons IV 1 1-7 Bokasi 4 ons Kapur 1 ons 8-15 Bokasi 3 ons Kapur 1 ons 2 1-15 Bokasi +Thricoderma 1,7 ons NPK Pasca 0,5 ons Kapur 1ons Penyiapan lahan yang akan ditanami tanaman tomat diusahakan bukan bekas tanaman sefamili seperti kentang, bedengan dengan lebar 110 ‐120 cm, tinggi 50 ‐ 60 cm, dan j arak antar bedengan 50 ‐ 60 cm, pupuk kandang matang sebanyak 10 ton/ha yang dicampur dengan tanah secara merata. Kemudian semprotkan merata pada permukaan bedengan dengan larutan pupuk hayati MiG‐6PLUS dengan dosis 2 liter pupuk hayati MiG‐6PLUS perhektar, biarkan selama 3 hari Kemudian bibit siap untuk di tanam. Pemeliharaan: Pemupukan dengan pupuk hayati MiG‐6PLUS. Pengulangan pemberian pupuk hayati MiG‐6PLUS pada masa pemeliharaan adalah setiap 3 minggu sekali dengan dosis yang di anjurkan adalah 2 liter MiG‐6PLUS per hektar. Pemasangan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) . Beberapa keuntungan penggunaan mulsa plastik yaitu : a.Mengurangi fluktuasi suhu tanah. b.Mengurangi evaporasi tanah, sehingga kelembaban tanah dapat dipertahankan. c.Mengurangi kerusakan (erosi) tanah karena air hujan. d.Menekan pertumbuhan gulma, mengurangi pencucian hara terutama Nitrogen dan meningkatkan aktivitas mikrobiologi tanah. d.Mengurangi serangan hama pengisap (Thrips, tungau dan kutu daun) dan penyakit tular tanah (rebah kecambah dan akar bengkak). Pemasangan turus dimaksudkan agar tanaman dapat tumbuh tegak mengurangi kerusakan fisik tanaman. Memperbaiki pertumbuhan daun dan tunas. Pemangkasan : Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil buah tomat adalah dengan cara pemangkasan. Pemangkasan cabang dengan meninggalkan satu cabang utama per tanaman akan menghasilkan buah tomat dengan diameter yang lebih besar dibandingkan dengan tanpa pemangkasan. Jumlah cabang yang harus dipertahankan pertanaman tergantung pada kultivar yang ditanam. Tanaman tomat memerlukan air dalam jumlah yang banyak untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Semakin sering frekuensi pemberian air semakin baik pula sifat fisik buah tomat yang dihasilkan. Panen pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 3 bulan. Dipilih yang sudah tua dan jangan memetik yang masih basah, karena tidak tahan lama, buah jangan jatuh dan terluka. 3.Tanaman Mentimun (Cucumis sativus) Mentimun adalah tanaman merambat yang mempunyai sulur dahan berbentuk spiral. Biasanya ditanam di sawah dan di ladang-ladang sebagai tanaman untuk sayur ataupun rujak. Daunnya bertangkai panjang, bentuknya lebar bertajuk dengan pangkal berbentuk jantung. Ujung runcing tepi bergerigi. Batangnya berbulu halus-halus dengan pankang sampai 3 m. Cara pembuatan lubang tanam yaitu dua baris atau double rows 60 x 40 cm, lubang pupuk dapat ditugal 5 cm disamping lubang tanam. Benih ditanam sedalam 1 cm, 2 benih perlubang tanam. Benih ditutup dengan abu jerami pada musim kemarau dan pada musim hujan dengan abu ditambah pupuk kandang. Penyulaman dilakukan secepatnya agar pertumbuhan tanaman seragam. Pengairan usahakan tanah dalam kondisi lembab, lahan yang kekeringan menyebabkan tanaman stres dan buah pahit, pengairan dilakukan 1 x seminggu. Perambatan. Pemasangan lanjaran atau lurus diupayakan saat tanaman berumur 2 minggu. Selanjutnya disiapkan tali rapia 2 tingkat dengan jarak 30 cm. Penyiangan dilakukan untuk menghilangkan gulma. Panen pertama dilakukan pada umur tanaman 35 hari setelah tanam dan setelah itu panen dilakukan bertahap 3 kali dalam seminggu, dipilih buah yang sudah itu buah yang berwarna sama dari mulai pangkal sampai ujung buah bewarna keputihan. Panen dilakukan dengan cara memetik, memotong tangkai buah dengan pisau tajam agar tidak merusak tanaman. 4.Tanaman Terong (Solanum melongena) Terong (Solanum melongena) merupakan tanaman setahun berjenis perdu yang dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 60 sampai 90 cm. Daun tanaman ini lebar dan berbentuk telinga. Bunganya berwarna ungu dan merupakan bunga yang sempurna, biasanya terpisah dan terbentuk dalam tandan bunga. Budidaya tanaman terong ini lebih mudah karena dapat tumbuh di berbagai tempat, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Tanaman Terong lebih mudah beradaptasi terhadap pengaruh cuaca. Budidaya tanaman Terong membutuhkan jenis tanah yang subur, kaya akan unsur hara atau nutrisi dalam tanah, bertekstur remah atau lempung berpasir dan memiliki aerasi tanah yang baik. Aerasi tanah adalah kemampuan tanah dalam meyerap gas seperti Oksigen dari udara yang berguna bagi pertumbuhan tanaman. Tingkat keasaman tanah atau pH tanah yang dibutuhkan dalam budidaya tanaman terong ini berkisar antara 6,8 sampai 7,3 dimana unsur hara dapat tersedia dalam jumlah cukup dan mikroorganisme pengurai dapat hidup di dalam tanah. Lahan penanaman disiapkan dan diolah terlebih dahulu, kemudian di bentuk bedengan. Bedengan dibuat selebar antara 1,2 sampai 1,4 cm. Dan panjang sesuai lahan. Kemudian bedengan dibuatkan lubang tanam masing-masing berjarak sekitar 60 cm. Jarak antar barisan lubang tanam 70-80 cm. Setiap bedengan memuat dua barisan tanaman. Di antara bedengan, haruslah dibuat parit yang berfungsi sebagai jalan dan pembuangan air saat musim hujan. Hal ini penting dilakukan karena terung tidak tahan genangan air. Selanjutnya setiap lubang tanam diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 0,5-1 kg agar tanah cukup mengandung bahan organik. Umur terong yang dapat dipanen tergantung dari varietas yang ditanam. Namun, secara umum terung dapat dipanen sekitar 4 bulan atau 90 hari sejak semai. Selanjutnya selang seminggu sekali, buah terung dapat dipanen 6 sampai 7 kali. Sebaiknya terung yang dipetik adalah buah muda yang bijinya belum keras dan daging buahnya belum liat. C. Kegiatan Budidaya Jamur Tiram Faktor penting yang harus diperhatikan dalam budidaya jamur tiram ini adalah masalah higienis, aplikasi bibit unggul, teknlogi produksi bibit (kultur murni, bibit induk, bibit sebar), teknologi produksi media tumbuh/substrat dan pemeliharaan serta cara panen jamur tiram. D. Kegiatan Produksi Pupuk Organik Trichoderma Jamur Trichoderma sp. merupakan salah satu agen antagonis yang bersifat saprofit dan bersifat parasit terhadap jamur lain. Trichoderma umumnya hidup pada tanah yang lembab, asam dan peka terhadap cahaya secara langsung. Pertumbuhan Trichoderma sp. yang optimum membutuhkan media dengan pH 4-5. Kemampuan jamur ini dalam menekan jamur patogen lebih berhasil pada tanah masam daripada tanah alkalis. Kelembaban yang dibutuhkan berkisar antara 80-90% atau 35°C-35°C. Jamur Trichoderma sp. memiliki banyak manfaat diantaranya adalah sebagai berikut:  Sebagai organisme pengurai, membantu proses dekomposer dalam pembuatan pupuk bokashi dan kompos.  Sebagai agensia hayati.  Sebagai aktifator bagi mikroorganisme lain di dalam tanah.  Stimulator pertumbuhan tanaman.  Biakan jamur trichoderma dalam media aplikatif dedak bertindak sebagai biodekomposer yaitu mendekomposisi limbah organik menjadi kompos yang bermutu. Dapat juga berlaku sebagai biofungisida yaitu menghambat pertumbuhan beberapa jamur penyebab penyakit pada tanaman. E. Teknik Pembuatan MOL MOL (Mikro Organisme Lokal) adalah kumpulan mikro organisme yang bisa diternakkan untuk pembuatan - pembuatan kompos organik yang berfungsi untuk memberikan makanan tambahan bagi pasukan pelapuk. Bahan dan alat yang digumnakan untuk pembuatan MOL Batang pisang yang sudah busuk secukupnya  Air panas/hangat.  Air biasa 1 L.  Terasi 1/4 kg.  Gula pasir 3 sendok makan.  Dedak 1 genggam.  Buah-buahan yang manis.  Ember tutup (kapasitas 15 L).  Bambu pengaduk. Cara pembuatan:  Rendam dan peras batang pisang ke dalam air biasa sehingga sari pati bercampur dengan air, dan sisakan sedikit serat pisang di dalam air.  Campurkan air panas, terasi, gula pasir, aduk merata tunggu hingga air mendingin.  Campurkan larutan serat pisang dan air panas (sudah dingin) ke ember, tambahkan dedak dan aduk-aduk.  Tutup ember dengan rapat dan biarkan selama 10 hari.  Setelah 10 hari cek kondisi MOL, jika sudah bau dan muncul gelembung2 udara, berarti MOL sudah jadi dan dapat dipergunakan.  Penghilang bau dapat digunakan nanas yang telah dihancurkan sebelumnya IV.HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil pengamatan yang dilakukan di lapangan, saya lebih tertarik membahas tentang teknik budidaya tanaman kakao di Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya Gampong Jruek Bakkreh Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar. 4.1 Pembukaan Lahan Kakao Cara penyiapan lahan dapat dengan cara pembersihan selektif dan pembersihan total lahan. Alang-alang di tanah tegalan harus dibersihkan/ dimusnahkan supaya tanaman kakao dan pohon naungan dapat tumbuh baik. Untuk memperlancar pembuangan air. Saluran drainase yang secara alami telah ada harus dipertahankan dan berfungsi baik. Saluran sekunder dan tersier dibangun sesuai dengan keadaan lahan. B.Persiapan Lahan dan Naungan Langkah awal persiapan lahan adalah pembersihan areal pertanaman dari tanaman tidak produktif. Persiapan lahan dan naungan sebaiknya sudah dilakukan satu tahun sebelum tanaman kakao ditanam, sehingga pada saat bibit kakao ditanam, tanaman penaung di lapangan sudah tumbuh dengan baik sebagai tanaman penaung kakao. C.Pemilihan Bibit  Biji kakao untuk benih diambil dari buah bagian tengah yang masak dan sehat dari tanaman yang telah cukup umur.  Sebelum dikecambahkan benih harus dibersihkan lebih dulu daging buahnya dengan abu gosok.  Karena biji kakao tidak punya masa istirahat (dormancy), maka harus segera dikecambahkan.  Pengecambahan dengan karung goni dalam ruangan, dilakukan penyiraman 3 kali sehari.  Siapkan polibag ukuran 30 x 20 cm (tebal 0,8 cm) dan tempat pembibitan.  Campurkan tanah dengan pupuk kandang (1 : 1), masukkan dalam polibag.  Benih dapat digunakan untuk bibit jika 2-3 hari berkecambah lebih 50% Jarak antar polibag 20 x 20 cm lebar barisan 100 cm.  Tinggi naungan buatan disesuaikan dengan kebutuhan sehingga sinar masuk tidak terlalu banyak Penyiraman bibit dilakukan 1-2 kali sehari. D.Penanaman Penanaman bibit kakao dipindahkan ke kebun bila penaungnya sudah berfungsi baik yang ditandai dengan cahaya yang diteruskan 30-50% dari penyinaran lansung. Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan. Pada saat mengangkut dan menanam bibit, tanah dalam polibag tidak boleh pecah. Bagian dasar polibag dipotong selebar 1-2 cm dan dimasukkan kedalam lobang tanam yang digali seukuran volume tanah polibag. Selanjutya lobang tanam diisi dengan tanah agar polibag berdiri tegak. Salah satu sisi polibag disayat dari bawah ke atas dan tanahnya dipadatkan dengan tangan. Polibag ditarik ke atas kemudian tanah dipadatkan dengan kaki. Usahakan bibit yang sudah diangkut harus selesai ditanam dalam satu hari. Bibit yang mati atau kerdil segera disulam sampai umur 1 tahun. Piringan tanaman muda harus bersih dari gulma dengan cara memberikan mulsa atau tanaman penutup tanah(cover crops). Untuk mendapatkan areal penanaman yang sebaik – baiknya, dianjurkan untuk menetapkan pola tanam terlebih dahulu. Pola tanam erat kaitannya dengan keoptimuman jumlah pohon per hektar, keoptimuman peranan pohon pelindung, dan meminimumkan kerugian yang timbul pada nilai kesuburan tanah, serta biaya pemeliharaan. E.Jarak Tanam Jarak tanam kakao adalah 4 m x 2 m, 3 m x 3 m atau 4 m x 3 m dengan jarak tanaman kakao dengan tanaman naungan 3 m. Usahakan larikan barisan tanaman kakao lurus kesemua arah. Pembuatan lobang tanaman dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm. Lubang dibuat 6 bulan sebelum tanam dan kedalam lobang diisi pupuk kandang sebanyak 5 sampai 10 kg/lobang. Tutuplah lobang tanam 3 bulan sebelum tanam untuk menjaga agar batu-batu dan sisa akar tanaman tidak masuk kedalam lobang. F. pemangkasan Tanaman Pemangkasan yang benar sangatlah penting, Pemangkasan yang buruk dapat mengurangi hasil kakaoselama beberapa bulan bahkan beberapa tahun, danmeningkatkan serangan penyakit serta pertumbuhan gulma. Penanaman biasanya dilakukan pada musim hujan antara November dan Maret. Informasi berikut tentang saat pemangkasan lebih terkait dengan fase perkembangan tanaman dari pada dengan musim. Ada empat komponen kunci dalam pemangkasan tanaman kakao: 1. Pemangkasan bentuk: Pemangkasan pucuk. Pemangkasan bentuk tajuk. 2. Pemangkasan tunas air atau wiwilan. 3. Pemangkasan sanitasi. 4. Pemangkasan stuktural. l.pemangkasan bentuk Tujuan pemangkasan bentuk adalah untuk membentuk tanaman dan tajuk kakao sehingga memacu perkembangan cabang sekunder yang menghasilkan banyak buah. Pemangkasan bentuk meliputi dua tahap, pada tahap pertama ujung cabang baru yang sedang tumbuh dihilangkan untuk memacu pertumbuhan cabang samping. Empat atau lima cabang-cabang ini diseleksi dan dipelihara menjadi cabang primer untuk menunjang kehidupan pohon kakao dalam tahap pemangkasan kedua. Pada pemangkasan bentuk tajuk cabang yang ada di bawah dan yang menggantung dibuang. Hal ini akan merangsang pembentukan tajuk yang baik dan kuat. Pemangkasan Pucuk Waktu 3 sampai 6 bulan setelah tanam, potong ujung titik tumbuh yang dominan untuk memacu pertumbuhan cabang samping ke atas lebih banyak. Pangkas cabang-cabang yang menggantung untuk memacu pertumbuhan cabang-cabang yang kuat pada umur-umur awal. Pemangkasan Pucuk Tajuk Waktu umur 6 sampai 9 bulan setelah tanam. potong cabang-cabang lateral 40 sampai 60 cm di atas tanah(cabang-cabang setinggi di bawah lutut) untuk merangsang cabang utama dengan jarak yang cukup. Pangkas cabang yang merendah dan menggantung untuk membentuk tajuk yang melingkar/sirkuler. Tinggalkan empat atau lima cabang utama dengan jarak yang sama dari jorket (titik tempat keluarnya cabang kipas pada batang utama) untuk memacu penutupan tajuk. Hindari pemangkasan yang akan mengakibatkan pembentukan struktur dan tajuk yang jelek dan pertumbuhan vegetatif yang berlebihan. 2.Pemangkasan Tunas air atau wiwilan Pada tanaman muda pemangkasan tunas vertikal dilakukan untuk memperoleh kekuatan struktur dan menghindari cabang yang berlebihan. Pada tanaman dewasa, pemangkasan ini dilakukan guna meningkatkan cadangan nutrisi untuk perkembangan buah dan memperbaiki penetrasi sinar serta aliran udara. setiap tiga bulan bulan pangkas semua tunas setinggi di bawah lutut pada batang (kurang dari 40 sampai 60 cm di atas permukaan tanah). Pangkas sebagian besar tunas yang tumbuh kembali di dalam struktur yang terbentuk. Biarkan tunas vertikal pada bagian paling bawah pohon yang roboh atau miring agar tumbuh guna mengganti pohon yang tua hilangkan tunas vertikal yang tidak tumbuh tegak. 3.Pemangkasan Sanitasi Sanitasi atau kebersihan akan membantu meningkatkan masuknya sinar matahari atau aliran udara dan mencegah serta mengurangi masalah hama penyakit dan gulma. Hal ini akan memperbaiki kesehatan tanaman dan merangsang perkembangan buah. Pemangkasan sanitasi dilakukan pada waktu yang sama dengan pangkasan struktural (untuk membentuk kerangka tanaman) dan jika cabang-cabang sakit banyak terlihat. Waktu Tiap 5 sampai 6 bulan, jika memangkas tunas vertikal dan tunas air, pastikan bahwa seluruh tunas vertikal sudah dibuang sehingga tidak ada potongan atau sisa yang tertinggal di batang utama. Cara pemangkasan: 1. cabang-cabang yang menggantung dan merunduk dibawah ketinggian 1,2 2. Tunas vertikal dan ranting-ranting kecil yang tidak produktif. 3. Semua cabang yang sakit dan rusak. 4. Cabang-cabang yang tumpangtindih, tinggalkan jarak20–40 cm antar cabang. 5. Pelihara cabang-cabang untuk mempertahankan tinggi tanaman 3,5 m. 6. Pengirisan sentral: pangkas sedikit saja pada pusat tajuk. 7. Pengirisan samping: pangkas sedikit cabang kecil pada samping tajuk untuk membentuk jarak. 8. Buang semua buah yang mengering. 4.pemangkasan stuktural Pemangkasan struktural bertujuan untuk memacu perkembangan empat sampai lima cabang utama secara kontinyu sebagai struktur/ kerangka primer. Pemangkasan ini akan merangsang penggantian cabang tua dan sakit pada tanaman dewasa dengan pertumbuhan baru. Hal ini akan mempertahankan bagian produktif, sedangkan pembukaan tajuk dan terselenggaranya ventilasi di dalam dan antar tanaman bertujuan untuk mempertahankan tajuk agar tetap baik dan membulat. Jangan memangkas pohon yang tidak mempunyai cabangcabang aktif. Hindari memangkas cabang produktif, terutama di pusat pohon. Pemangkasan untuk mengendalikan dan mengatur ketinggian pohon hanya dilakukan terhadap pohon yang aktif tumbuh melampaui 3,5 m. Pemangkasan sebaiknya tidak menyisakan jarak antar pohon lebih daripada jangkauan lengan (1,5 m). Setiap 5 sampai 6 bulan pangkas dengan urutan sebagai berikut: 1. Pemangkasan untuk mengendalikan dan membatasi ketinggian tanaman. Pangkas cabang pada ketinggian 3,5 m agar tinggi tanaman dapat terjangkau pada waktu panen. Lakukan hanya pada pohon yang tingginya lebih dari 3,5 m. 2. Pembersihan permukaan tanah Pangkas cabang-cabang yang rendah dan merunduk agar bersih sampai ketinggian1,2 m di atas permukaan tanah. 3. Kembangkan/bentuk tajuk-tengah Pangkas dengan bentuk V kecil pada tengah-tengah tajuk pada arah timur-barat dan kemudian utara-selatan. G.Tanaman naungan Tanaman naungan sentang bagi tanaman kakao berfungsi untuk menaungi yang mengandung arti mampu meredam suhu maksimum dan suhu minimum yang dapat merusak tanaman kakao. Kedua suhu lazimnya terjadi selama musim kemarau sehingga keberadaan dan ungsi tanaman penaung lebih diutamakan selama musim tersebut. Tanaman penaung sentang berfungsi sebagai pematah angin hal ini dikarenakan daun-daun kakao khususnya yang masih muda mudah rontok oleh angin. Fungsi penaung sentang juga yang lain adalah sebagai pompa hara artinya tanaman kakao yang system pemakarannya di daerah sub soil. Sistem perakaran tersebut diharapkan mampu menyerap dan mengangkut hara ketajuk melalui daun rontok atau bila tajuknya dipangkas sehingga top soil bisa subur. Tanaman penaung juga berfungsi untuk mencegah erosi. Fungsi terakhir tanaman penaung sentang adalah untuk menambah pendapatan sampingan pekebun. H.Pengendalian Hama Penyakit Tanaman (HPT) Hama yang sering menyerang tanaman kakao yakni hama penggerek buah kakao (PBK) yang sangat merugikan karena menyerang buah dan daun. Gejala dari serangan ini yakni buah busuk dengan stadium larva, warna kulit buah pudar dan belang hijau kuning, daging buah hitam, biji keriput dan melekat pada daging buah. Selain PBK, tanaman kakao juga mengalami penyakit busuk buah dan bercak daun. 1.Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha spp) Menyerang buah kecil dan muda, Hidup dalam buah dan memakan daging buah. Buah masak lebih awal dan belang-belang jingga. Biji hitam dan melekat satu sama lain Cara Pengendalian :  Karantina benih/bibit.  P2SPS (Panen sering, Pemangkasan, Sanitasi, Pemupukan Sarungisasi).  Rampasan (panen besar untuk memutus siklus). 2. Penyakit Busuk Buah (Cendawan Phitopthora palmivora) Buah menjadi coklat-kehitaman mulai dari ujung buah atau pangkal buah dekat tangkai, ada juga tengah buah. Serangan lanjut seluruh buah menjadi hitam. Cara Pengendalian : Mekanis : Memetik buah yang busuk lalu dikuburkan. Kultur Teknis : Mengatur kelembaban melalui pemangkasan. J.Pemanenan Saat petik persiapkan rorak-rorak dan koordinasi pemetikan. Pemetikan dilakukan terhadap buah yang masak tetapi jangan terlalu masak. Potong tangkai buah dengan menyisakan 1/3 bagian tangkai buah. Untuk memanen cokelat digunakan pisau yang tajam. Cara pemetikannya jangan sampai melukai batang yang ditumbuhi buah. Pemetikan sampai pangkal buah akan merusak bantalan bunga sehingga pembentukan bunga terganggu dan jika hal ini dilakukan terus menerus maka produksi buah akan menurun. Buah yang dipetik umur 5 sampai 6 bulan dari berbunga, warna kuning atau merah. Buah yang telah dipetik dimasukkan dalam karung dan dikumpulkan dekat rorak. Pemetikan dilakukan pada pagi hari dan pemecahan siang hari. Pemecahan buah dengan memukulkan pada batu hingga pecah. Kemudian biji dikeluarkan dan dimasukkan dalam karung, sedang kulit dimasukkan dalam rorak yang tersedia. Buah cokelat bisa dipanen apabila terjadi perubahan warna kulit pada buah yang telah matang. Sejak fase pembuahan sampai menjadi buah dan matang, cokelat memerlukan waktu sekitar 5 bulan. Buah matang icirikan oleh perubahan warna kulit buah dan biji yang lepas dari kulit bagian dalam. Bila buah diguncang, biji biasanya berbunyi. V.KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Didesa Gampong Jruek Bek Kreh, Indrapuri dalam praktek lapang didesa ini memiliki potensi untuk dikembangkan terutama dibidang pertanian kakao. Dengan motifasi dan semangat bekerja yang dimiliki petani serta pihak yang terkait telah mencapai kesuksesan. Didalam usaha tani Kakao membutuhkan teknik budidaya yang baik dan benar agar memperoleh produksi yang optimal, juga memperhatikan kondisi lingkungan dan agroklimat di lokasi pembukaan kebun kakao harus sesuai dengan kebutuhan tanaman kakao. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah. 5.2 Saran Waktu kegiatan studi lapang dilapangan sangat terbatas, kedepan perlu adanya penambahan waktu dalam pelaksaan studi lapang dilapangan supaya kegiatan tersebut lebih efektif dan efisien. DAFTAR PUSTAKA Abdoelah,S.,A.Adi Prabowo, dan Priyono.”Kajian penggunaan sentang,sebagai penaung kakao”,pelita pekebunan.10,117-124,1994. Alvim,R;P.”Some physiological studies at the Inter amirican cacao centre”, Cacao, 2, 9-10, 1996. Dejean,M.,”Flowering Habit of Cacao”,Cacao inf.Bull.1, 1-4, 1948. Misnawi;Sri-Mulota; S.Widyotomo;A.Sewet;& sugiono, “Optimasi Suhu dan Lama Penyangraian Biji Kakao penyangrai Skala Kecil Tipe Silinder”pelita perkebunan, 21(3), 119-13, 2006. Soenaryo & Sangap Sitomurang, Budi Daya dan Pengolahan Cokelat (Jember, Penelitian Perkebunan Jember Inpress, 1984. Sulistyowati, E., Serangga penyerbuk Bunga Cokelat dan Permasalannya”’ Menara Perkebunan, 53, 1-6,1989. Sri-sukamto & D. Pujistuti,”Keefektifan Bahan Pengendali Penyakit Busuk Buah Kakao”’pelita perkebunan, 20(3),132-142,2004.


I.PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
 Kakao (Theobroma,L) merupakan salah satu komoditas perkebunan yang sesuai dengan perkebunan rakyak, karna tanaman ini dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun, sehinga dapat menjadi sumber pendapatan harian bagi petani atau pekebun kakao .Tanaman kakao berasal dari hutan hujan tropis di Amerika Selatan, kakao merupakan tanaman kecil di bagian bawah hutan hujan tropis dan tumbuh terlindung pohon-pohon yang besar.  Sebagai daerah tropis Indonesia terletak diantara 6 LU – 11 LS merupakan daerah yang sesuai untuk tanaman kakao.
Tanaman kakao (Theobroma, L) merupakan tanaman perkebunan berprospek mejanjikan masa depan  kita, dilihat dari banyaknya permintaan bibit kakao yang bermutu oleh petani atau kelompok tani. Oleh karna itu dalam budidaya tanaman kakao memerlukan naungan. Namun setiap jenis tanaman mempunyai kesesuaian lahan dengan kondisi tanah dan iklim tertentu dan tidak semua tempat sesuai dengan tanaman kakao, sebagai tanaman yang memerlukan naungan maka walaupun telah diperoleh lahan yang sesuai sebelum penanaman kakao tetap diperlukan persiapan naungan.  Tanpa persiapan naungan yang baik pengembangan tanaman kakao akan sulit diharapkan keberhasilannya, sebaiknya persiapan lahan dan naungan dilakukan satu tahun sebelum tanaman kakao ditanam, seperti yang kita lihat di indrapuri tanaman naungan  untuk kakao ditanam tanaman sentang.
              Didalam usaha tani Kakao membutuhkan teknik budidaya yang baik dan benar agar memperoleh produksi yang optimal, juga memperhatikan kondisi lingkungan dan agroklimat di lokasi pembukaan kebun kakao harus sesuai dengan kebutuhan tanaman kakao. Tetapi jika faktor tanah yang semakin keras dan miskin unsur hara terutama unsur hara mikro dan hormon alami, faktor iklim dan cuaca, faktor hama dan penyakit tanaman, serta faktor pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka tingkat produksi dan kualitas akan rendah. 
 

B.   Tujuan Studi Lapang
Mengetahui cara atau teknik budidaya tanaman perkebunan, tanaman hortikultura, teknik budidaya jamur tiram, dan teknik pembuatan pupuk organik Trichoderma di lapangan, serta pengendalian terhadap tanaman yang terserang hama dan penyakit. Mengamati secara langsung permasalahan yang dihadapi dilapangan serta mencari alternatif pemecahan masalah tersebut.
Untuk memperkenalkan kepada  mahasiswa tentang objek di dunia nyata pertanian yang terkait dengan Program Studi, sehingga dapat menambah ilmu dan memperluas wawasan dalam ilmu pertanian.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 





II.METODE PELAKSANAAN

A.  Tempat dan Waktu
  Praktek Studi Lapang dilaksanakan di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya Gampong Jruek Bak Kreh Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar.
Studi Lapang berlangsung pada hari Sabtu, 25 Desember 2010, mulai dari pukul 09.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB.

B.  Objek/sasaran
  Pada praktikum Studi Lapang yang di laksanakan di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya Gampong Jruek Bak Kreh Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar, objek yang diamati adalah tanaman hortikultura, budidaya jamur Tiram, kegiatan produksi pupuk organik Trichoderma, teknik pembuatan Mol, dan teknik budidaya tanaman coklat/kakao.
 
C.   Metode pelaksaan
 
1.      Mendengarkan pengarahan dari pengurus di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya.
2.      Melakukan wawancara langsung dengan pengurus di Pusat  Penelitian Pertanian dan Pengembangan Swadaya.
3.      Melaksanakan kegiatan pengamatan teknik budidaya pada tanaman kakao, mentimun, tomat, cabai, terong, jamur tiram, serta teknik pembuatan pupuk bokhasi.
 
 
 
 
 
 
D.    Letak Geografis
 
Kawasan indrapuri 177 Ha dan ketinggiannya 27 m dpl, jarak dari kota Banda Aceh 21 km sedangkan dengan  ibu kota Kabupaten Jantho berjarak 36 km, letak Geografis adalah ‘’050, 21- 05024’’LU Dan 95030 “ BT.
Batas-batas wilayah Indrapuri adalah:
Sebelah utara    : Gampong Krueng Aceh.
Sebelah Selatan: Gampong Mont Alu.
Sebelah Barat   : Gampong  Jruek Balee.
Sebelah Timur :  Gampong Ule Ue.

Objek Sasaran tanaman:
Di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya objek yang diamati diantaranya adalah:
Ø  Trichoderma.
Ø  Jamur merang dan jamur tiram.
Ø  jeruk bali.
Ø  Hortikultuar( timun, kacang panjang, terong, tomat ).
Ø  Kakao organik dan pohon sentang.









III.LAPORAN KUNJUNGAN LAPANGAN

A.   Tanaman Kakao (Theobroma cacao, L)
Tanaman kakao yang  di kembangkan pada Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya adalah varietas CFC yang di tanam beserta tanaman  sentang sebagai naungan. Jarak tanam sentang dengan sentang  1,80 x 1,80 meter sedangkan 3,6 x3,6 meter. Sentang berfungsi sebagai tanamanpelindung atau  naungan terhadap tanaman kakao.
Panen tanaman kakao pertama dilakukan pada saat tanaman kakao berumur 3 tahun 8 bulan  . Pupuk yang diberikan pada tanaman kakao adalah pupuk Bokasi dalam sekali pemupukan diberikan sebanyak 3,5 kg .Dalam 10 buah kakao bisa menghasilkan 1 kg  benih kering kemudian dapat dipasarkan langsung pada agen terdekat.  Dalam pemeliharaan kakao dilakukan pemangkasan cabang air, karena Kakao tidak membutuhkan cabang dan daun yang banyak.  
Pemangkasan  berfungsi mengurangi kelembaban , untuk menghindari datangnya penyakit. Penyakit pada kakao yaitu Phitoptora palmifora yang disebabkan oleh faktor tikus, buah kakao yang sudah dimakan tikus akan menimbulkan tumbuhnya jamur, selain tikus hama lainya tupai dan penggerek buah kakao.  Bibit kakao di beli dari medan dengan harga Rp 1000 / polybag dengan luas lahan 220 meter.
 
B.  Tanaman Hortikultura
1.Tanaman Kacang Panjang(Vigna sinensis)
Tanaman kacang panjang yang di kembangkan di lahan ini adalah jenis tanaman kacang panjang duduk, Tanaman kacang panjang ini batangnya tidak tinggi seperti tanaman kacang panjang yang biasa kita lihat. Tinggi tanaman ini kira-kira sekitar 1meter.  Caranya tanaman disiram atau digenang, jenis kacang panjang yang tahan terhadap kekeringan adalah kacang tolo dan kacang uci.

Kacang panjang dikembangbiakan dengan bijinya.  Biji tersebut dapat ditanam langsung di kebun yang telah disiapkan, untuk penanaman seluas 1 ha diperlukan kacang tunggak atau 12 kg biji kacang uci.  Sebelum benih ditanam, lahan diolah terlebih dahulu dengan dicangkul dan diratakan, jika tanahnya tandus perlu diberi pupuk kandang atau kompos sebagai pupuk dasar.  Setelah tanah diratakan, dibuat bedengan yang lebarnya 140 cm dan lebar selokannya 30 cm, sedangkan panjangnya bebas.
Tiap bedengan dibuat lubang tanam searah dengan panjang bedengan dengan tugal.  Jarak antarlubang tersebut 30 cm, sedangkan jarak antarbaris 70 cm sehingga tiap bedeangan ada 2 baris tanaman.  Setelah itu, tiap lubang ditanami 2 biji kacang panjang lalu ditutup tanah tipis-tipis.  Biji-biji dapat tumbuh setelah kurang lebih 5 hari ditanam.  Setelah tinggi tanaman mencapai 25 cm, dipasang ajir dari bambu yang tingginya sekitar 2 m.  Tanaman kacang panjang tersebut memerlukan ajir tersebut sebagai tempat membelit.
Pemasangan lanjaran dilakukan 10 sampai15 hari setelah tanam kacang panjang ditanam, kira-kira tinggi tanaman 15 sampai 25 cm.  Pemasangan lanjaran diantara 2 lubang tanam sehingga jarak antar lanjaran 50 cm.  Setiap 5 lanjaran perlu ditambah lanjaran/diperkuat, dengan cara dipasang silang.  Pemasangan tali dilakukan setelah pemasangan lanjaran selesai. Tali berguna membantu mengarahkan/merambatkan tanaman. Membantu merambatkan bertujuan untuk mengarahkan pertumbuhan tanaman baik pucuk tanamn maupun cabang-cabang tanaman.
Diharapkan tanaman merambat pada lanjaran dan tali yang telah dipasang, sehingga buah/polong tidak tergeletak di tanah. PenyianganPenyiangan dilakukan sebelum dilakukan pemupukan atau dilakukan sewaktu-waktu saat gulma sudah mengganggu pertumbuhan tanaman.  Pengairan diberikan sesuai kebutuhan, yang terpenting dijaga agar tanaman tidak kelebihan atau kekurangan air.  Pengairan sebaiknya dilakukan setelah pemupukan dilakukan. Sedangkan pada musim hujan, pengairan cukup dari air hujan.
Ciri-ciri polong siap dipanen adalah ukuran polong telah maksimal, mudah dipatahkan dan biji-bijinya di dalam polong tidak menonjol. Waktu panen yang paling baik pada pagi/sore hari. Umur tanaman siap panen 3 sampai 4 bulan.Cara panen pada tanaman kacang panjang tipe merambat dengan memotong tangkai buah dengan pisau tajam.Selepas panen, polong kacang panjang dikumpulkan di tempat penampungan.
Polong biasanya dapat dipungut pertama kali umur 2-2,5 bulan. Pemungutan selanjutnya seminggu sekali dan dapat berlangsung selama 3,5-4 bulan.  Keterlambatan dalam panen polong akan menyebabkan buah menjadi berserat dan liat.  Jika pemungutan dimaksudkan sebagai benih maka buah yang berserat dan liat tersebut tidak bermasalah.  Buah kacang tunggak dan uci dipungut setelah tua (kering) yakni setelah tanaman berumur 3-3,5 bulan karena yang digunakan bijinya. Biji kacang tidak dapat disimpan lama (sekitar 3 bulan di gudang) karena mudah diserang hama penggerek.  Produksi kacang lanjaran yang terawatt baik dan sehat dapat menghasilkan 2-2,5 ton polong muda tiap hektar Sementara kacang tunggak dan kacang uci dapat menghasilkan 1-2 ton biji kering/hektar.  Produksi kacang panjang dan kacang tolo umumnya hanya untuk konsumsi pasar local/dalam negeri.
2.Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum)
Budidaya tomat dapat dilakukan dari ketinggian 01.250 mdpl, dan tumbuh optimal di dataran tinggi > 750 mdpl, sesuai dengan jenis/varietas yang diusahakan dengan suhu siang hari 24°C dan malam hari antara 15°C20°C.  Pada temperatur  tinggi (diatas 32°C) warna buah tomat cenderung kuning, sedangkan pada temperatur yang tidak tetap (tidak stabil) warna buah tidak merata. Temperatur  ideal antara 24 °C 28°C. Curah hujan antara 750125 mm/tahun, dengan irigasi yang baik. Kemasaman tanah sekitar 5.5 6.5, penyerapan unsur hara terutama fosfat, kalium dan besi oleh tanaman tomat.



Di P4S Tomat ditanam  untuk mendapatkan tanaman  yang tahan dan tanaman yang tidak tahan terhadap penyakit fusarium yaitu dengan menanam tanaman dan memberikan dan memadukan pupuk trichoderma dengan pupuk bokasi, MPK tosca dan kapur.  Pada saat tanaman berumur  22 hari selain di berikan pupuk  ,tanaman tersebut juga disemprot dengan pupuk cair.

Tabel 1. kombinasi pupuk  pada tanaman tomat
Bedengan
Baris
Tanaman
Kombinasi pupuk/Baris
I
1
1-7
NPK Posca 1,5 ons


8-15
NPK Posca 3 ons

2
1-7
NPK+Kapur  5 ons


8-15
NPK+ Kapur 4 ons
II
1
1-7
Bokasi + Thricoderma  (F2) 5 ons


8-15
Bokasi + Thricoderma  (F2) 4 ons

2
1-7
Bokasi  4 ons


8-15
Bokasi  5 ons
III
1
1-7
Thricoderma (F1)  2 ons


8-15
Thricoderma (F1)  3 ons

2
1-7
Bokasi+ Thricoderma 4 ons
Kapur 1 ons


8-15
Bokasi+ Thricoderma 3 ons
Kapur 1 ons
IV
1
1-7
Bokasi 4 ons
Kapur 1 ons


8-15
Bokasi 3 ons
Kapur 1 ons

2
1-15
Bokasi +Thricoderma 1,7 ons
NPK Pasca 0,5 ons
Kapur 1ons


Penyiapan lahan yang akan ditanami tanaman tomat diusahakan bukan bekas tanaman sefamili seperti kentang, bedengan dengan lebar 110 120 cm, tinggi 50 60 cm, dan j arak antar bedengan 50 60 cm, pupuk kandang matang sebanyak 10 ton/ha yang dicampur dengan tanah secara merata.  Kemudian semprotkan merata pada permukaan bedengan dengan larutan pupuk hayati MiG6PLUS dengan dosis 2 liter pupuk hayati MiG6PLUS perhektar, biarkan selama 3 hari Kemudian bibit siap untuk di tanam.
Pemeliharaan:
Pemupukan dengan pupuk hayati MiG6PLUS.  Pengulangan pemberian pupuk hayati MiG6PLUS pada masa pemeliharaan adalah setiap 3 minggu sekali dengan dosis yang di anjurkan adalah 2 liter MiG6PLUS per hektar.  Pemasangan Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) .
Beberapa keuntungan penggunaan mulsa plastik yaitu :
a.Mengurangi fluktuasi suhu tanah.
b.Mengurangi evaporasi tanah, sehingga kelembaban tanah dapat dipertahankan.
c.Mengurangi kerusakan (erosi) tanah karena air hujan.
d.Menekan pertumbuhan gulma, mengurangi pencucian hara terutama Nitrogen dan meningkatkan aktivitas mikrobiologi tanah.
d.Mengurangi serangan hama pengisap (Thrips, tungau dan kutu daun) dan penyakit tular tanah (rebah kecambah dan akar bengkak).
Pemasangan turus dimaksudkan agar tanaman dapat tumbuh tegak mengurangi kerusakan fisik tanaman. Memperbaiki pertumbuhan daun dan tunas.
Pemangkasan :
Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil buah tomat adalah dengan cara pemangkasan. Pemangkasan cabang dengan meninggalkan satu cabang utama per tanaman akan menghasilkan buah tomat dengan diameter yang lebih besar dibandingkan dengan tanpa pemangkasan. Jumlah cabang yang harus dipertahankan pertanaman tergantung pada kultivar yang ditanam.  Tanaman tomat memerlukan air dalam jumlah yang banyak untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Semakin sering frekuensi pemberian air semakin baik pula sifat fisik buah tomat yang dihasilkan.
Panen pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 3 bulan. Dipilih yang sudah tua dan jangan memetik  yang masih basah, karena tidak tahan lama, buah jangan jatuh dan terluka.

3.Tanaman Mentimun (Cucumis sativus)
            Mentimun adalah tanaman merambat yang mempunyai sulur dahan berbentuk spiral.  Biasanya ditanam di sawah dan di ladang-ladang sebagai tanaman untuk sayur ataupun rujak. Daunnya bertangkai panjang, bentuknya lebar bertajuk dengan pangkal berbentuk jantung.  Ujung runcing tepi bergerigi. Batangnya berbulu halus-halus dengan pankang sampai 3 m.
Cara pembuatan lubang tanam yaitu dua baris atau double rows 60 x 40 cm, lubang pupuk dapat ditugal 5 cm disamping lubang tanam. Benih ditanam sedalam 1 cm, 2 benih perlubang tanam.  Benih ditutup dengan abu jerami pada musim kemarau dan pada musim hujan dengan abu ditambah pupuk kandang. Penyulaman dilakukan secepatnya agar pertumbuhan tanaman seragam.

Pengairan usahakan tanah dalam kondisi lembab, lahan yang kekeringan menyebabkan tanaman stres dan buah pahit, pengairan dilakukan 1 x seminggu.
Perambatan. Pemasangan lanjaran atau lurus diupayakan saat tanaman berumur 2 minggu.  Selanjutnya disiapkan tali rapia 2 tingkat dengan jarak 30 cm. Penyiangan dilakukan untuk menghilangkan gulma.

Panen pertama dilakukan pada umur tanaman 35 hari setelah tanam dan setelah itu panen dilakukan bertahap 3 kali dalam seminggu, dipilih buah yang sudah itu buah yang berwarna sama dari mulai pangkal sampai ujung buah bewarna keputihan.  Panen dilakukan dengan cara memetik, memotong tangkai buah dengan pisau tajam agar tidak merusak tanaman.




4.Tanaman Terong (Solanum melongena)
            Terong (Solanum melongena) merupakan tanaman setahun berjenis perdu yang dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 60 sampai 90 cm.  Daun tanaman ini lebar dan berbentuk telinga.  Bunganya berwarna ungu dan merupakan bunga yang sempurna, biasanya terpisah dan terbentuk dalam tandan bunga.  Budidaya tanaman terong ini lebih mudah karena dapat tumbuh di berbagai tempat, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.   Tanaman Terong lebih mudah beradaptasi terhadap pengaruh cuaca. 
Budidaya tanaman Terong membutuhkan jenis tanah yang subur, kaya akan unsur hara atau nutrisi dalam tanah, bertekstur remah atau lempung berpasir dan memiliki aerasi tanah yang baik.   Aerasi tanah  adalah kemampuan tanah dalam meyerap gas seperti Oksigen dari udara yang berguna bagi pertumbuhan tanaman. Tingkat keasaman tanah atau pH tanah yang dibutuhkan dalam budidaya tanaman terong ini berkisar antara 6,8 sampai 7,3 dimana unsur hara dapat tersedia dalam jumlah cukup dan mikroorganisme pengurai dapat hidup di dalam tanah. 
Lahan penanaman disiapkan dan diolah terlebih dahulu, kemudian di bentuk bedengan.  Bedengan dibuat selebar antara 1,2 sampai 1,4 cm. Dan panjang sesuai lahan.  Kemudian bedengan dibuatkan lubang tanam masing-masing berjarak sekitar 60 cm.  Jarak antar barisan lubang tanam 70-80 cm.  Setiap bedengan memuat dua barisan tanaman.  Di antara bedengan, haruslah dibuat parit yang berfungsi sebagai jalan dan pembuangan air saat musim hujan. Hal ini penting dilakukan karena terung tidak tahan genangan air. Selanjutnya setiap lubang tanam diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 0,5-1 kg agar tanah cukup mengandung bahan organik.
Umur terong yang dapat dipanen tergantung dari varietas yang ditanam. Namun, secara umum terung dapat dipanen sekitar 4 bulan atau 90 hari sejak semai. Selanjutnya selang seminggu sekali, buah terung dapat dipanen 6 sampai 7 kali.  Sebaiknya terung yang dipetik adalah buah muda yang bijinya belum keras dan daging buahnya belum liat.
C. Kegiatan Budidaya Jamur Tiram

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar